Sabtu, 01 Juni 2013

kamus munjid


KAMUS AL-MUNJID
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ilmu Ma’ajim
Dosen Pengampu : Machfudz Shiddiq, LC., M. A

Untitled-1



Di susun Oleh:
Ulfiyah                                               (103211068)





FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012







I.            PENDAHULUAN
Kamus merupakan alat atau bahan referensi yang dipergunakan oleh sebagian besar mahasiswa atau khalayak umum dalam mencari makna kata atau istilah pengertian dari kata tersebut.
Kamus Arab tersohor sedunia yang bernama kamus al-Munjid ini disusun oleh dua orang pendeta (rahib) Kristen Katolik, yang mana isi dari kamus tersebut dianggap paling lengkap dan komprehensif, yang dihiasi gambar-gambar dan dijadikan sebagai kamus utama di berbagai dimensi institusi Islam dan Pondok seluruh dunia. mayoritas umat Islam menggunakan kamus al-Munjid ini karena mudah dalam pencariannya, namun tanpa mereka sadari bahwa karangan ini milik seorang kristiani yang dapat memperngaruhi aqidah dan pengetahuan seseorang bilamana tidak memahami isi konkrit didalamnya.
Penggunaan Kamus al-Munjid yang sudah sekian lama dan masih digunakan sampai sekarang bukanlah tanpa penentangan dan jabaran. Sebagian ulama menganggap kamus ini adalah sebagian daripada gerakan orientalis yang mempunyai agenda tersembunyi terhadap dunia Islam.
Oleh Karena itu, pemakalah akan sedikit memaparkan sebuah karya dari seorang pendeta kristiani yang bernama Louwis Ma’luf dengan karyanya yaitu yaitu Kamus Al-Munjid yang biasa dikonsumtif oleh masyarkat seluruh dunia, sebagaimana keterangan berikut ini;

II.            RUMUSAN MASALAH
A.       Bagaimanakah  Latar Belakang Terbitnya Kamus Al-Munjid?
B.       Siapakah Pengarang Kamus Al-Munjid?
C.       Apa Sajakah Kelebihan dan Kekurangan pada Kamus Al-Munjid?
D.       Bagaimanakah Metode Pencarian Kata dalam Kamus Al-Munjid?

III.            PEMBAHASAN
A.    Latar Belakang Terbitnya Kamus Al-Munjid
Kamus yang dirilis pada tahun 1908 M ini. Di susun oleh Louwis Bin Naqula Dhahir Al-Ma’luf(1867-1946M). dinamakan Al-Munjid karena sebuah kamus yang berfungsi sebagai Injaad (penolong)bagi orang yang hendak mengetahui makna sebuah kata atau informasi lainnya. Sebenarnya, nama Al-Munjid pernah digunakan sebagai nama kamus oleh Kura’ Al-Naml (w. 921M) yang juga menyusun kamus dengan nama yang sama.
Hingga kini, kamus Munjid masih tetap popular dan dicetak berulang-ulang. Pada tahun 1981, kamus ini telah mencapai cetakan ke-24 pada penerbit Dar Al-Msyriq di Beirut-Libanon. Pada tahun 1956, tepat nya pada cetakan ke-15, Mr. Ferdinan Tutel memberi penambahan di kamus Munjid berupa biografi tokoh-tokoh di Negara timur dan barat hingga kamus Munjid dianggap lengkap dan serupa dengan ensiklopedi, kemudian nama kamus Al-Munjid dikenal dengan Al-Munjid Fi Al-Lughah Wa Al-Adab Wa Al-Ulul (kamus bantu ilmu bahasa, sastra dan sains)
Dari sisi materi kamus Munjid banyak meringkas dari kamus Muhith Al-Muhith karya Al-Bustani dan dari sisi interpretasi pemaknaan kata, kamus Al-Munjid lebih condong mengikuti penafsiran makna dalam kamus Taj Al-Aruus karya Al-Zabidy. Sebagai kamus modern, kelebihan kamus Munjid terletak pada tata letak dan perwajahan kamus dimana kata-kata yang termuat telah dicetak dengan tinta merah dan dilengkapi dengan gambar-gambar seperti: gambar tokoh, peta, tabel, hewan, tumbuhan, alat musik, alat transportasi dan sebagainya. Bahkan kamus Munjid juga memuat juga memuat beberapa ilustrasi gambar beberapa nabi yang mengundang kritik dari berbagai pihak, karena menurut pandangan ulama fiqih menggambar wajah nabi adalah haram[1].
B.       Pengarang Kamus Al-Munjid
Penyusun kamus ini terdiri dari dua orang pendeta Katolik yang bernama Fr. Louwis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i. Kamus ini pertama kali dicetak, diterbitkan dan didistribusikan oleh sebuah percetakan Katolik sejak tahun 1908.
Adapun riwayat hidup pengarang kamus Al-Munjid ini adalah Louwis Bin Naqula Dhahir Alma’luf(1867-1946)yang lahir di kota Zahlah-Libanon. Ia adalah salah seorang pastur dan penganut kristiani, ia memulai studi lanjutannya sekolah fakultas kristen di Beirut. Lalu ia belajar ilmu filsafat di Inggris lalu ke Prancis untuk belajar ilmu teologi. Ia mampu berkomunkasi dengan beberapa bahasa asing pada tahun1906, ia diangkat menjadi direktur surat kabar Al-Basyir. Kemudian ia meninggal pada tahun 1946 M di Beirut.
Karya Louwis yang hingga kini masih populer dan telah dicetak berulang kali adalah kamus Al-Munjid. Namun sebenarnya materi yang ada dalam kamus Al-Munjid ini banyak mengambil dari kamus Muhith Al-Muhith(Butrus Al-Bustani) sehingga kamus ini lebih dikenal dengan ringkasan Muhith Al-Muhith. Seorang pakar leksikologi bernama Fuad Afram Al-Bustani berhasil membuat ringkasan kamus Al-Munjid yaitu Al-Munjid Al-Abjadi yang secara khusus disusun untuk para pelajar dan memakai system artikulasi (Nidzam Nutqi).
Sekalipun Louwis berkali-kali merevisi karyanya tersebut, demikian pula seluruh  tim editing penerbit Daarul- Masyriq- penerbit pertama kamus Al-Munjid, namun kamus ini tak lepas dari kesalahan, akibatnya tidak sedikit para ulama yang melayangkan kritik terhadap kamus Al-Munjid, sekalipun disatu sisi fenomena tersebut menunjukkan bahwa Al-Munjid telah mendapat respon dari pakar bahasa arab. Mereka yang mengkritik kamus Al-Munjid, antara lain: Abdullah Kanun, Munir Al-‘Imady, Sa’id Al-Afgani, Abdul Sattar Fajar, Maniz Al-Mubarak, Husain Nashshar, Umar Al-Daqqaq, Ibrahim Al-Qaththan(Athrat al-Munjid Fi Al-Adab Wal Ulum Wa A’lam), serta Dr. Ibrahim Awwad(An-Naz’ah an–Nasraniyah fi Qamus al-Munjid)[2]
Hendaknya perlu diketahui bahwa adanya Kamus ini isinya hanyalah merujuk kepada majalah-majalah Nashrani dan tidak pernah merujuk kepada majalah yang diterbitkan oleh orang Islam. Karena dalam kamus ini terdapat :
a.       Beberapa kesalahan ayat
b.      Tidak terdapat lafadz “Firman Allah”, terkadang mereka berkata: “Di dalam Al-Qur’an”
c.       Tidak mencantumkan sifat Al-Qur’an yang Suci atau Agung
d.      Banyak dicantumkan berita dari kitab suci Taurat dan Injil secara khusus
e.       Tidak terdapat hadits Nabi meskipun hanya satu, sementara kita mengetahui bahasa Arab bersumber dari Al-Qur’an, Hadits dan syair-syair Arab Jahiliyah. Al-Alusi memiliki sebuah kitab yang berbicara tentang pengambilan dalil dari perkataan Arab.[3]

C.    Kelebihan dan Kekurangan pada Kamus Al-Munjid
Sebagian Ulama menganggap bahwa kamus itu adalah sebagian daripada gerakan Orientalis yang mempunyai agenda tersembunyi terhadap dunia Islam. Namun sebagian yang lain beranggapan bahwa kamus tersebut memiliki kelebihan yang dapat diunggulkan.
Kelebihan-kelebihan kamus Al-Munjid diantaranya sebagai berikut:
1.      Dinilai dapat menjamin tingkat obyektifitas penyusun kamus dalam menata kosakata yang ditemukan.
2.      Sebagai alat bantu untuk menafsirkan kalimat berbahasa arab.
3.      kelebihan kamus Munjid ini terletak pada tata letak dan perwajahan kamus dimana kata-kata yang termuat telah dicetak dengan tinta merah dan dilengkapi dengan gambar-gambar seperti: gambar tokoh, peta, tabel, hewan dan sebagainya.
4.      Diakui memiliki kosa kata dan makna yang lengkap.
Sementara itu sekurang-kurangnya ada dua kitab yang ditulis oleh ulama Islam yang menentang terhadap isi dan kandungan yang terdapat dalam Kamus Al-Munjid, yaitu: Athrat al-Munjid Fi Al-Adab Wal Ulum Wa A’lam (Karangan Prof. Ibrahim al-Qhattan, 664 halaman, terbit 1392 Hijriyah), ini adalah kitab paling utama dalam mengkritik Kamus Al-Munjid. Kemudian An-Naz’ah an–Nasraniyah fi Qamus al-Munjid (Karangan Dr. Ibrahim Awwad, 50 halaman, terbit 1411 Hijriyah).
Kamus Al-Munjid mempunyai beberapa kekurangan sebagai unsur yang disengajakan, diantaranya adalah:
a.              Ketika menyebut kalimah “Al-Quran” tidak pernah menyambungkannya dengan istilah “al-Karim” dan sebagainya, namun ketika menyebut kalimah kitab suci Kristian dan Yahudi, maka kamus ini menambahkan istilah “al-Muqaddas”.
b.              Ketika menyebut atau memuat kalimah “Nabi Muhammad” tidak pernah menyertakan perkataan “Salallahu ‘Alaihi Wassalam” dan demikian juga kalimat sahabat tidak pernah ditambahkan dengan “Radiyallahu Anhu”.
c.              Tidak menggunakan kata “Basmalah” yang sesungguhnya milik umat Islam, sebaliknya dalam keterangannya tertulis “Bismil Ab-wal Ibn Wa Ruhil Quds’ yang Artinya ”Dengan menyebut Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus”. Setelah itu baru disebut kalimah “Bismillahirahmannirahim”.
d.             Kamus ini juga tidak membahas aqidah Islam, namun banyak membahas hal yang bersifat penyelewengan aqidah.
e.              Nama tokoh Islam yang utama seperti sahabat, tabiin dan para ulama terkemuka juga tidak dimuatkan, sebaliknya nama tokoh barat Kristiani banyak dimuatkan.
f.               Kamus ini tidak pernah merujuk pada sumber Islam yang sebenar-benarnya, tetapi sebaliknya merujuk pada sumber Barat dan ini sangat jelas kelihatan dalam menyebut kalimah “ibadat” dan sebutan nama Nabi dan Rasul yang menggunakan istilah Kristen.
g.              Banyak terdapat kesalahan penulisan nama tokoh dan kaitannya dengan sejarah, demikian juga mengatakan bahwa daging babi itu sangat lazat.
h.              Dimasukkannya gambar dan aneka lukisan yang berasal dari Barat, yang sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, seperti gambar nabi Isa dan nabi lainnya. Bahkan, ada sebuah gambar sepasang manusia dewasa yang telanjang sedang menangis, gambar itu dikatakan sebagai gambar Adam dan Hawa.melainkan  tetapi Lukman disebut sebagai nabi.
i.                Nuh dikatakan hanya sebagai “Keluarga Ibrahim” dan Sulaiman dikatakan sebagai “Raja” bukan nabi.
j.                Nabi Daud disebut sebagai pembunuh banyak lelaki untuk memperisterikan jandanya, beliau dianggap mempunyai isteri sebanyak 100 orang, padahal realitanya tidak demikian.
Masih ada banyak catatan mengenai penyelewengan kamus produk orientalis ini, yang sampai sekarang dikonsumsi oleh lembaga Pendidikan Islam, Universiti, Pondok Pesantren, Madrasah dan institusi lainnya.[4]
D.    Metode Pencarian Kata dalam Kamus Al-Munjid
Kamus-kamus bahasa Arab yang telah beredar, diakui sebagai produk kreatifitas para linguistik dan hasil riset leksikologi, sangat beragam tergantung pada tujuan penyusunan kamus dan perwajahannya (performence) yang direlevansikan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam Kamus Al-Munjid Fi Lughah Wal- A’lam karya Louwis ini memuat dua kategori yaitu tentang kebahasaan atau pemaknaan dan tentang ilmu pengetahuan umum. Lampiran pertama pada kamus Al-Munjid tentang kebahasaan yang menggunakan sistematika alfabetis serta memuat sejumlah makna yang bermacam-macam, sedangkan lampiran kedua menjelaskan tentang ilmu pengetahuan umum yang terdiri dari pengetahuan umum,pengetahuan Arab, gambar tokoh sejarawan, peta geografis, tahun-tahun penting dan sejarah dunia yang menggunakan pola alfabetiss juga.
Adapn ditinjau dari segi macamnya kamus Al-Munjid menggunakan jenis berikut ini:
a.       Kamus bahasa (lughawi)
Yaitu kamus yang secara khusus membahas lafal atau kata-kata dari sebuah bahasa yang dilengkapi dengan pemakaian kata tersebut. Kamus bahasa disusun dengan model sistematika penyusunan tertentu untuk mempermudah para pemakai atau pembaca dalam mencari makna sebuah kata, kamus bahasa hanya memuat satu bahasa, sehingga biasanya pemaknaan kata hanya menyebut sinonim atau definisi kata tersebut.
b.      Kamus gambar (visual)
Yaitu kamus yang dalam menjelaskan makna kata lebih menonjolkan gambar-gambar dari kata yang dimaksud dari pada sebuah istilah yang definitif. Sebuah gambar yang memag terbilang efektif dalam menjelasskan definisi atau pengertian sebuah kata. Kamus ini memuat gambar atau ilustrsi visual tentang beberapa gambar para nabi, adda ilustrasi tentang proses penciptaan hawa dari tulang rusuk Adam yang juga menamppakkan wujud tuhan, gambar patung nabi Musa, nabi Ibrahim, hingga nabi Isa (yesus), hal ini yang mendorong para leksikolog arab menolak kamus Al-Munjid dan kamus-kamus lain menggunakan kamus gambar.[5] Contoh kamus gambar lainnya adalah: kamus Muhammad Yunus, Al-Bishri, dan lain sebagainya.
c.       Kamus tematik (Kamus Maudlu’i)
Kamus tematik adalah pengklasifikasian kata-kata berdasarkan tema-tema tertentu yang memiliki makna serumpun. Misalnya: tema warna (Lawn) yang terdiri dari merah, biru,  putih dan sebagainya.
Kamus tematik bahasa arab versi kuno antara lain: kamus Al-Mukhassash karya Ali Bin Ismail (1007-1066M) yang berjumlah 17 jilid, kitab Al-Alfadz Al-Kitabiyyah karya Al-Hamzani, kemudian kamus tematik yang menggunakan terjemah arab- Indonesia-atau sebaliknya yaitu Kamus Popular Bahasa Arab-Indonesia yang disusun oleh keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Mesir[6].
Kamus Al-Munjid ini menggunakan metode alfabetis atau
ترتيبب الكالمات بحسب الحرف اوائـلها, sebagaimana aturan berikut ini:
1.      Kamus Al-Munjid yang baru susunan kalimatnya tersusun sesuai makna dari sisi pembagian dari setiap materi kedalam kategori yang berbeda.
2.      Jika ingin mencari kata, jika kalimatnya berupa mujarrod maka carilah pada bab huruf pertama dari kalimat tersebut. Sedangkan jika berupa mazid atau terdapat kalimat yang diganti, maka carilah bentuk mujarrodnya terlebih dahulu atau kembalikan pada bentuk asalnya, kemudian carilah pada bab huruf yang pertama dari kalimat tersebut.
contoh :
خالد =أصله خلد    باب خ
صام= صوم         باب ص
3.      Fi’il mudloaf tsulasi diletakkan pada awal materi, adapun bentuk mudloaf ruba’I maka bentuknya telah dikembalaikan pada bentuk tsulasi sesuai pada teori yang telah diikuti dalm mengembalikan setiap kalimat kepada bentuk tsulasi, Contoh: صَمْصَمَ  maka dikembalikan pada bentukصَمَّ , dan مَلْمَلَ Disebutkan pada kalimat مَلَّ dan kata  دحرج disebutkan pada kalimat دحر .
4.      Tanda || diletakkan pada kalimat yang telah ditafsiri, dan tidak perlu mencari kembali contoh:  الراحة    ||   الروح: الفرح (hlm. 285) serta diletakkan pada kalimat yang telah dijelaskan apabila berupa kalimat fi’il, contoh: أشكل الأمر :  و-الكتاب  || التبس
Atau ketika berupa isim yang telah mempunya penjelasan sebelum ditafsirkan , contoh:   و- من الترس : كالوقف || الوقفة: المرة (hlm.914).
Adapun tanda(*) yang terletak setelah kalimat itu menunjukkan bahwasanya pada tempat tersebut pada pembahasan yang lain dari kalimat terdapat kalimat yang sinonim (arti) tapi memiliki makna yang berbeda.
5.      Tidak semua kalimat yang diletakkan bersama fi’il yang bertujuan membatasi, bahkan banyak dari kalimat tersebut dijadikan sesebagai contoh, sebagaimana pemilik kamus ini (louwis) missal:  راث الفرس(hlm.285).Maka arti kalimat  الروث tidak khusus untuk kuda saja, namun berlaku untuk hewan yang berkuku lainnya. Maka ketika didapati pada kamus perbedaan banyak dari sisi mutlak dan muqoyyadnya, maka wajib berpegang pada penggunaan kata dari orang terpercaya ataupun dari tulisan yang masyhur.[7]

IV.            KESIMPULAN
Kamus ini dibuat oleh orang Nashrani dan dicetak pertama kali pada tahun 1908, yang ditulis oleh pendeta (rahib) bernama Fr. Louwis, seorang Jesuit(pastur) terkenal yang membuka bagian informasi di dalamnya dan pendeta Nashrani lain bernama Fr. Ferdinand Tutel, seorang Jesuit juga. Kamus ini dicetak pertama kali di percetakan Katolik.
Dalam kamus ini terdapat banyak sekali kekurangannya di banding kelebihannya bagi umat Islam sendiri diantaranya adalah :
  1. Terdapat beberapa kesalahan ayat
  2. Tidak terdapat lafadz “Firman Allah”, terkadang mereka berkata: “Di dalam Al-Qur’an”
  3.  Tidak mencantumkan sifat Al-Qur’an yang Suci atau Agung
  4. Banyak dicantumkan berita dari kitab suci Taurat dan Injil secara khusus
  5. Tidak terdapat hadits Nabi meskipun hanya satu, sementara kita mengetahui bahasa Arab bersumber dari Al-Qur’an, Hadits dan syair-syair Arab Jahiliyah. Al-Alusi memiliki sebuah kitab yang berbicara tentang pengambilan dalil dari perkataan Arab.
Kamus Al-Munjid Fi Lughah Wal A’lam memuat dua kategori yaitu tentang kebahasaan atau pemaknaan kata-kata dan tentang ilmu pengetahuan umum di dunia yang sama-sama menggunakan pola alfabetis dalam pencariannya.
Sementara penggunaan kamus al-munjid yang di tinjau dari segi macam nya terbagi menjadi 3 jenis yaitu:
1.      Kamus berupa lughawi
2.      Kamus berupa gambar (visual)
3.      Kamus berupa tematik dengan model alfabetis
Sedangkan secara metode pemakaiannya sebagaimana berikt ini:
a)      Susunan kalimatnya terbentuk sesuai makna dengan kategori yang berbeda
b)      Jika mencari kata berupa mujarrod (asli), maka langsung mencarinya pada bab awal kategori tersebut, sedangkan jika berupa mazid maka kembalikan pada bentuk mujarrodnya kemudian cari pada awal kategori tersebut.
c)      Jika berupa Fi’il mudloaf tsulasi diletakkan pada awal materi, adapun bentuk mudloaf ruba’I maka bentuknya telah dikembalikan pada bentuk tsulasi Contoh: صَمْصَمَ  maka dikembalikan pada bentuk صَمَّ
d)     Tanda || sebagai symbol pengulangan agar tidak perlu mencari ulang kalimat tersebut.





V.            PENUTUP
Syukur Alhamdulillah penulis haturkan kepada Allah SWT  dengan rahmat, taufiq serta hidayah-NYA sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini. Dan tentunya dalam penyusunan makalah ini tidak luput dari sifat-sifat yang selalu melekat pada manusia, yaitu kekurangan dan kesalahan. Untuk itu penulis mengharap kritik dan saran yang konstruktif demi kebaikan bersama. Semoga sedikit pembahasan tentang sejarah dan kelebihan kamus Al-Munjid ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi kita semua . Amin.


























DAFTAR PUSTAKA


Ma’luf, Louwis. Al-Munjid Fi Lughah Wal A’lam. Beirut: Daar Al-Masyriq, 1986
Taufiqurrahman, H.R. Leksikologi Bahasa Arab. Malang:Uin-Malang Press, 2008
Syaikh Masyhur Hasan Salman, Fatwa Syaikh Masyhur Hasan Salman Tentang Penggunaan Kamus Bahasa Arab “Al Munjid”,
Ibrahim Abdullah, Kamus Arab al-Munjid Agenda Kristian, Yahudi Kelirukan Ummah,

 


[1] H.R. Taufiqurrahman, Leksikologi Bahasa Arab, (Malang:Uin-Malang Press, 2008),hlm.265-266
[2] Ibid, hlm. 312-313

[3] Syaikh Masyhur Hasan Salman, Fatwa Syaikh Masyhur Hasan Salman Tentang Penggunaan Kamus Bahasa Arab “Al Munjid”, http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/10/16/fatwa-syaikh-masyhur-hasan-salman-tentang-penggunaan-kamus-bahasa-arab-al-munjid/16-10-2012-12:53

[5] H.R. Taufiqurrahman, Op., Cit, hlm.153 &160-161
[6]  Ibid, hlm.155-157
[7] Louwis Ma’luf, Al-Munjid Fi Lughah Wal A’lam, (Beirut: Daar Al-Masyriq, 1986), bag. هـ

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar